Kuliah hari ini, di Joglo Fakultas Kedokteran UNS, masih mengenai neoplasma, yaa, karena ini blok yang sedang kutempuh.
Neoplasma bisa diterapi dengan berbagai cara, dengan bedah, ya, tentunya dengan bedah onkologi karena mengambil tumor (ps, tumor disini lebih refer ke neoplasma, bukan tumor sejati) dari tubuh seseorang itu nggak asal babat aja. tapi kadang ada kasus dimana tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan invasif bedah tersebut, dan alternatif terapi nya adalah dengan radiasi maupun kemoterapi. Misalnya, kasus dimana ditemukan neoplasma ganas di daerah nasofaring, terapi yang lebih dianjurkan bukanlah pembedahan namun radiasi. Dan inilah satu cerita yang cukup menarik dari dosen tadi pagi :)

Ada seorang gadis yang cantik, yang saat itu menjadi pasien sang dokter karena kasus neoplasma ganas di daerah nasofaring. Karena tidak mungkin dilakukan pembedahan untuk mengangkat tumor tersebut, direncanakan akan dilakukan terapi radiasi, dimana mungkin akan menimbulkan beberapa perubahan, yang memang merupakan efek samping terapi radiasi itu sendiri. Setelah beberapa kali biasanya kulit tampak merah, gosong, lama-kelamaan
mengering dan gatal. Tetapi ada juga yang sebaliknya: kulit menjadi
lembab, basah, dan mengalami iritasi/lecet, terutama di lipatan-lipatan
tubuh. selain pada kulit, ada juga berbagai efek samping lainnya.
Singkat cerita, setelah menandatangani
inform consent (maybe, yang jelas sudah setuju dan sudah persiapan tindakan), muncullah suara-suara dari luar yang mengojok-ojoki (opo kuwi, ya pokoknya me..... mempengaruhi gitu lah) si cewek ini.
"eh, Nabila (halah, sinetron banget), kalo kamu mau diterapi radiasi, apalagi itu kan di daerah wajahmu, nanti kamu nggak cantik lagi lho. ada merah-merah, gosong, hii, kan sayang tu mukamu yang cantik."
"
eh, Nabila, nanti wajahmu yang sering perawatan di Natasya itu jadi rusak lagi lho! sayang banget uangnya daripada buat terapi mending buat facial aja yuuuk ciin."
"eh, Nabila, nanti wajahmu udah jelek makin jelek aja lho."
yang ketiga ini lah yang membuat si cewek ini jadi mikir-mikir,
"apa aku jelek ya?" "apa benar ya kata temen-temenku? jangan-jangan terapi radiasi ini akan merusak wajahku."
akhirnya, si cewek yang (katanya) cantik ini lebih sayang pada kecantikannya dan mengorbankan kesehatannya. yaaaa, dia menolak diterapi apapun yang mungkin memiliki efek terhadap wajah cantiknya.
Kalo aku jadi cewek itu, mungkin aku memilih untuk tetep melakukan terapi radiasi saja.
syukurlah mukaku jelek jadi nggak mikir jauh jauh hahahahahahahaha.. :D
Padahal, apa yang bisa kita dapatkan dari kecantikan tanpa kesehatan? kalo kata mbak-mbak miss universe,
Healthy Inside, Fresh Outside, dan aku percaya kata-kata itu (buktinya mereka cuantik-cuantik)
Kesehatan tu mahal harganya lho, walaupun kecantikan juga mahal sih, yang pada perawatan dan lalalala apalagi yang sampe ketergantungan gitu, mahal sih tapi bukan suatu keharusan kan. Kita bisa melakukan banyak hal kalo kita sehat, walaupun kita nggak terlalu cantik atau ganteng. Ya kan? Nggak bakal kok, kita dilarang hidup gara-gara jelek!
Nah kalo kita cantik atau ganteng, tapi nggak sehat? Apalagi memelihara tumor kayak kasus di atas. buat apaa? Penyakit tu bisa "menggerogoti" tubuh kita perlahan, otomatis menghalangi kita untuk melakukan banyak hal, makan nggak enyak, tidur nggak enyak, kerja nggak enyak, belajar nggak enyak, dan sebagainya, bahkan menghalangi kita untuk menikmati hidup.
Lebih baik lagi, pelihara kesehatan terutama, lalu pelihara penampilan, karena penting juga sebenernya :)
di beberapa kali kuliah disebutkan, mahasiswa kedokteran sekarang adalah ujung tombak yang harus mempromosikan kesehatan di kalangan masyarakat luas. model dokter masa depan seharusnya
promotif, bukan hanya kuratif atau rehabilitatif. bahkan aku pengen suatu saat mewujudkan kata-kata seorang dokter saat itu, untuk membangun
Rumah Sehat, bukan Rumah Sakit lagi, di masa depan. Amin.. :)
sweet regards,
Valentina Lakhsmi :)