SAHABAT SEJATI itu seperti BAYANGAN?

Happy Sunday people, :)
Seperti biasanya hari Minggu umat Kristiani akan ke Gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi. So do I. Karena aku menginap di Salatiga, dan rencananya sore hari aku harus mengikuti rapat Paguyuban Duta Wisata Boyolali, maka aku harus ke gereja di Salatiga saja.

Semalam aku tidur sekitar jam 03.30 waktu Salatiga akibat ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman FANJateng. Sedangkan misa di gereja sini adalah jam 08.00 waktu Salatiga. Sekitar jam 6 aku dibangunkan seorang teman dan langsung bersiap, it means that I only spent around 150 minutes for sleeping. alhasil, ketika aku di gereja, ngantuk luar biasa.

Tapi kenyataannya di gereja aku bisa mengikuti dengan cukup baik, ndengerin bacaan Kitab Suci dengan baik walau sambil merem, dan ndengerin homili dengan baik juga walau kadang-kadang merem juga.tapi I got it kok! Buktinya, aku menulis post ini berdasar salah satu dari isi khotbah Romo tadi pagi.

Beberapa tahun yang lalu, entah tahun berapa, yang jelas saat sang Romo sudah lahir sudah bisa nonton TV dan bisa memahami orang-orang d dalam TV itu berbicara, ada tayangan Grand Final Pemilihan Putri Indonesia. Sebenarnya, selama saya hidup dan nonton Pemilihan Putri Indonesia, sesi terakhir yg saya ingat adalah pertanyaan di tahap 5 besar (atau 3 besar ya), yang jelas bukan 2 besar. Lalu akan dipilih pemenangnya beserta runner up-runnerr up nya. Tapi kata sang Romo, saat itu tinggal 2 makhluk perempuan yang cantik jelita diinterogasi.

"Hai wanita cantik, bagaimana pendapatmu mengenai pernyataan ini : SAHABAT SEJATI itu seperti BAYANG-BAYANG?"
"Saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut, karena kemanapun kita pergi, sahabat itu seperti halnya bayang-bayang, dimana ia akan selalu mengikuti kita dan tak pernah bisa kita tinggalkan."
"Saya tidak setuju dengan pernyataan tersebut, karena sahabat sejati sebaiknya tidak hanya muncul saat kita terkena cahaya, dan tidak terlihat pada saat gelap. Sahabat sejati seharusnya ada disaat kita senang terutama disaat kita menderita."

Pendapat masing-masing orang boleh berbeda-beda, dan kedua pemikiran di atas diungkapkan oleh dua wanita cantik Indonesia (aduh please ya lent, ga penting contak cantik contak cantik -_____-"). Walaupun secara redaksional mungkin berbeda, tapi intinya seperti yg aku tulis di atas, menurut Romo yg berkhotbah tadi.
Temen-temen juga pasti memiliki pilihan sendiri, mana jawaban yang paling "ngeh". Kalo aku pribadi, aku memilih jawaban yang kedua.

Sejak SD, aku banyak nulis di buku harianku, tentang teman-teman yang aku anggap sebagai sahabat. beberapa halaman pertama aku membangga-banggakan mereka, tapi lama kelamaan, aku akan menulis satu persatu kekecewaanku pada mereka. Lalu aku menemukan lagi teman-teman yang kuanggap sahabat dan kemudiaaaaan sama lagi seperti itu. dan seperti itu dan seperti itu terus.
Aku dan pemikiranku sejak kecil selalu membayangkan seorang sahabat yang sempurna, yang selalu ada saat suka dan duka, yang nggak egois, yang nggak berkhianat demi kepentingannya sendiri, yang mau menerima kita apa adanya, yang mau memberitahu kesalahan kita agar bisa jadi lebih baik, tapi kenyataannya?

Orang-orang banyak bikin status facebook "kalo lagi butuh aja dateng, kalo nggak lupaaa!!"
ataau "katanya sahabat! ternyata kamu kayak gituu!!"
tapi di sisi lain ada status juga seperti ini "kemana kalian saat ku butuh?"
walau ada juga yang menulis "aku sayang kalian sahabat-sahabatku"
yang terakhir ini, biasanya adalah orang-orang yang sedang galau gundah gulana sedih menderita tersiksa terbuang sia-sia kemudian dia dibantu oleh sahabatnya entah dalam bentuk apapun.

Lama-kelamaan aku jadi memikirkan hal ini. bahwa sahabat itu juga manusia, waktu mereka nggak cuman buat kita aja. mereka juga punya masalah mereka sendiri. mereka punya karakter diri mereka masing-masing. mereka punya kehidupan yang urusannya berbeda dengan kita. mereka punya kesedihannya sendiri dan kebahagiaannya sendiri. mereka bukan superhero yang bisa selalu datang tepat waktu ketika ada bunyi "piip piip piip" dari hidung atau jam tangannya.

Ketika aku sendiri memosisikan diri sebagai sahabat dari sahabatku, aku menyadari hal itu, aku nggak bisa terus-terusan memikirkan dia setiap saat setiap waktu apalagi kalo sahabatku itu cewek, bisa dikira aku lesbi kalo hanya dia di dalam pikiranku. Aku harus mikirin kuliah, ujian, OSCE, duit, makan, organisasi, belum ntar kalo lagi galau. Aku mungkin sibuk dengan duniaku dan dia sibuk dengan dunianya sendiri, ketika kita bahagia bukan berarti melupakan atau mencampakkan satu sama lain tapi mungkin ada berbagai keterbatasan baik tempat waktu dan lalalala untuk bisa dibagikan dengannya. Lalu ketika aku dalam keadaan down aku mencari dia, sms, telepon, buat sekedar cerita karena kutau dia yg bisa membuatku lebih plong. Sebaliknya, ketika dia sedih dia akan mencariku. Hal ini menyadarkan bahwa, sebaiknya kita nggak ngejudge sahabat itu "cuma inget kalo lagi butuh", karena itu manusiawi banget. kita sendiri melakukannya juga. Justru menurutku itu artinya sahabat kita benar-benar pecaya sama kita dan mengandalkan kita.


Untuk yang marah-marah sama sahabatnya karena mungkin menyakiti hati kita, mungkin aja dia hanya mau menngingatkan kita soal kesalahan atau kekurangan kita, biar kita jadi lebih baik, bukan begitu teman-teman?


Aku sendiri nggak mengidamkan lagi sahabat seperti di negeri dongeng itu, aku cuma berusaha jadi sahabat yang baik untuk sahabatku. semoga dia juga melakukan hal yang sama denganku.
  

sweet regards, Valentina Lakhsmi :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 comments:

Post a Comment