Between Ina, Papa, and His Car :D
Hi pops.. lagi pengen berbagi cerita nih. kalo kemaren aku nulis sesuatu yang berbobot (apanyaaaa?? hahaha) sekarang aku mau nulis pengalaman yang nggak penting disini.
Kemaren, Papa ku yang paling ganteng paling baik paling pinter paling bijaksana paling okeeee sedunia, minta aku mengantar beliau ke Simo. Simo itu mana sih? Simo itu adalah salah satu kecamatan yang "mendalam" di Kabupaten Boyolali. Mengantar naik apa? Mobil. Padahal, anjingku pun tahu kalo aku nggak bisa mengendarai sesuatu bernama mobil itu. Tapi ya pada akhirnya aku anggep itu sebagai tantangan, pikirku, ah lewat jalan kecil gitu kan nggak begitu susah, itung-itung buat belajar mobil. Papa ku praktek di Rumah Sakit Simo, yah, pikirku, sekali-kali deh nganter, biasanya dianter. :)
Oke, akhirnya aku kendarai lah mobil itu dengan sok bisa, dengan Papa disampingku sebagai "GPS" nya karena aku sendiri nggak tau kalo ke Simo itu lewat mana. Setelah cukup jauh dan aku merasa pede, hahaha, ternyata gini doang to naik mobil?? ehhhh ternyata setelah sampai Simo, kok lanjut terus ya.
Dan aku menyadari jalannya makin ngeri. lubang di jalan makin banyak, bis yang lewat makin ngawur, dan tubuhku makin berkeringat. rupanya AC nya nggak nyala.
Papa ku mengangkat telepon dan berkata "Udah selesai belum? Andongnya di sebelah mana to?"
WTH, ternyata ke Andong, Andong itu mana? Pokoknya makin mendalam lagi deh.
Singkat cerita, sampailah kami di tempat yang dimaksudkan, SMA Negeri 1 Andong, parahnya, ternyata disana ada donor darah. Aku biasanya bantu Papa cek kesehatan para pasien yang mau donor darah, dengan dandanan oke punya, pake jas putih dan berkalungkan stetoskop. EEEEE sekarang aku dateng dengan kaos dan celana pendek, muka apa adanya dan rambut lepek karena berkeringat sepanjang jalan. Entah mau ditaruh mana mukaku yang cantik ini (HAHHH)
Akhirnya aku lewat depan anak-anak SMA itu dan duduk agak jauh dari Papaku, terus main hape sambil pegang kunci mobil, berharap orang-orang mengira aku ini sopir pribadinya Papa. bukan anaknya yang biasa meriksa pasien donor.
Tapi ternyata nggak berhasil, mungkin muka ku gimanapun emang nggak cocok jadi sopir ya (HAHAHA), tiba-tiba temen-temennya Papa yang orang PMI juga, menghampiriku dan membawakan sekotak makan siang. "Ayo mbak dimakan dulu"
Aku masih berharap, aku cuma dianggap sopir dan ada makanan sisa yang gapapa deh dikasih ke sopir. Aku cuma mengiyakan dan nggak menyentuh makanan itu sama sekali. Tapi selang berapa menit selalu ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang mendatangiku dan akhirnya berkata "Ayo makan di dalem aja mbak, Papa di dalem kok."
Jedeeeer. kasian banget papaku. pasti malu banget punya anak kayak aku. di depan temennya Papa masa pake baju rumahan dan muka bantal!
Akhirnya aku lalui masa penuh siksaan batin di lokasi donor darah itu. Kami pulang dannnnnn di jalan pulang ternyata Papa ku punya kejutan lagi buat aku. Jalan balik nya beda dengan jalan berangkat tadi. lewat lembah-lembah gitu, berkelok-kelok dan di tepi nya jurang, naik turun di jalan sempit di belakang bus dan truk dan kudu nyalib. Jauuuuh banget tapi akkhirnya tembus juga di jalan raya Boyolali-Solo. Setelah lewat jalan ekstrem akhirnya dilewatkan jalan besar dengan mobil-mobil kecepatan tinggi. Nggak ketinggalan, dikasih tantangan parkirin mobil diantara dua bata yang disetting Papa sedemikian rupa.
Benar-benar hari tak terlupakan dan at least aku udah bisa melewati berbagai medan dengan mobil sekarang!
Papa ku memang hebaaaat dan punya cara untuk mempermalukan akuuuuu. hahahaha love you papaaa :*
sweet regards, Valentina Lakhsmi :)






0 comments:
Post a Comment