"Didikan" yang "Membesarkan"

Pernahkah kamu berpikir, kalo aku punya anak nantinya, akan kudidik seperti apa ya?
bukan, bukan karena aku pengen cepet-cepet punya anak, tapi karena pendidikan terhadap anak itu efeknya "megang" banget buat hidupnya, terutama pendidikan dalam keluarga.

http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/aa/begin.jpg


Kemarin, aku ngobrol dengan salah seorang temenku (temen yang sangaaaaat dewasa, bukan tua lho, hehe) mulai dari hal-hal sepele sampai ke hal-hal yang amat sepele. Misalnya, soal tidur siang. Dia bercerita kalo sejak kecil dididik oleh orangtuanya untuk sarapan dan tidur siang setiap hari, walaupun nggak ada yang nyangkal bahwa kadang tidur dipaksa itu nggak enak, jadi pura-pura merem aja terus nonton tivi kalo dah ditinggal pergi.
Karena "paksaan" itu maka dia terbiasa untuk selalu sarapan dan tidur siang setiap hari sampai dewasa.
Beda dengan aku. aku dulu waktu kecil jarang disuruh tidur siang, karena dulu waktu kecil aku udah sibuk. HAHAHAHA. sibuk apa? hanya orang-orang tertentu yang tau. :D
aku juga jarang disuruh sarapan, karena walaupun bangunku pagi, kadang siap-siapnya lamaaaa, jadi sarapannya dimasukin ke tupperware, jadiin bekal deh. hehe. alhasil sampe SMA, bahkan sampe kuliah sekarang pun aku biasa aja kalo nggak sarapan. nggak makan sampe sore pun biasa (kalo ini bukan karena dididik seperti itu, tapi karena lama merantau, sayang ama duit hehe)
aku juga nggak terbiasa tidur siang, justru kalo dipaksa tidur siang malah pusing jadinya. KECUALI memang ngantuk dan pusing abis begadang semalaman karena rutinitas mahasiswa (baca suka duka anak kedokteran disini)

Ada pula, fenomena yang nggak asing bagi kita, bahwa seorang anak yang dibesarkan di keluarga yang memanjakannya, ya, sampai dewasa kalo memang tetap seperti itu ya akan jadi orang yang manja. gampang mengeluh, suka menuntut, "terima hasil" atau apapun sebagainya. Sementara seorang anak yang memang dibesarkan untuk mandiri, ya, dia akan lebih dipercaya untuk tinggal jauh dari orangtuanya kelak, dengan kepribadian yang tough dan ngga gampang menyerah. nggak perlu disangkal, pasti kalian banyak menemukannya diantara temen-temen kalian, temen kosan mungkin, atau bahkan kalian sendiri? hehe

Yah, itu cuma beberapa contoh saja. Lalu gimana cara yang tepat kira-kira, supaya kelak generasi kita dan generasi setelah kita itu memiliki kualitas yang baik? tentu bergantung bagaimana kita mendidiknya bukan?
Bayangkan saja kalo yang menjadi pemimpin masa depan itu adalah orang-orang yang bingung setengah mati ketika kulitnya menghitam, atau yang galau karena bingung memilih warna kutek, atau yang setiap hari kerjaannya kelayapan sampe malam untuk minum alkohol dan membuang-buang uang?
Tapi bershowerlah bersyukurlah di sekitar kita (atau mungkin kita sendiri) yang masih mempergunakan waktunya untuk hal-hal berguna, yang mau berjuang meraih cita-cita, yang mau berpikir kritis untuk masa depan, yang bisa menjuarai Olimpiade Fisika tingkat nasional (baru-baru ini Indonesia dapet 2 emas kan? hebat :)) dan yang bisa meluangkan waktunya untuk hal-hal positif, bukan hanya online facebook dan baca blog-blog payah seperti ini (iyaa, saya juga kesindir kok)

Mungkin yang harus diterapkan adalah bagaimana membentuk keseimbangan antara belajar, bermain, berdoa, berkegiatan, bersosialisasi dan mengarahkannya kepada hal-hal yang positif dan berguna namun menyenangkan. satu yang juga penting dipegang, bagaimanapun "fun" itu penting, bahkan di game The Sims pun ada kolom tersendiri untuk fun. apalagi untuk seorang anak, bukan berarti mengajarinya untuk melakukan hal positif adalah dengan menghapuskan bermain dan rekreasinya. Itu termasuk hak anak loh. :)

sweet regards, Valentina Lakhsmi :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

2 comments:

Niko Karis Gunawan said...

nice post Na ;-) let it be an inspiration for the readers, hehe..
please follow & visit my (first & new) blog, :-D

Unknown said...

sudah di follow kakak :))

Post a Comment